Sabtu, 14 November 2015

BANTAHAN TERHADAP PIHAK YANG MENYATAKAN BAHWA BERBAGAI TINDAKAN DAN AKSI ISIS ADALAH HASIL DARI DAKWAH AL-IMAM MUHAMMAD BIN 'ABDIL WAHHAB

al-'Allamah 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jabiri
..........................
Pertanyaan :
"Sebagaimana Anda ketahui wahai syaikh kami — Barakallahu fikum — bahwa sudah sejak lama kelompok-kelompok sesat bekerja sama untuk memerangi Dakwah Salafiyah. Di antara contohnya, apa yang terjadi pada hari-hari ini Kaum Shufi dan Kelompok IM bersepakat untuk memerangi Dakwah Salafiyyah.
Aku sebutkan secara khusus contoh penting,  berbagai fitnah yang diperbuat oleh ISIS dan Khawarij mereka katakan bahwa itu sebagai buah dari Dakwah asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah.
Mohon pencerahannya."

Jawab :
"Aku katakan,
1⃣ Pertama,  ini merupakan perkara yang sudah ditaqdirkan oleh Allah. Sebagaimana ditunjukkan oleh Firman-Nya (artinya) :
"Tidaklah Allah akan membiarkan kaum mukminin di atas apa yang kalian ada sekarang,  hingga Allah pisahkan antara yang jelek dengan yang baik." [Ali 'Imran : 179]
2⃣ Kedua : Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga tidak selamat dari pertentangan kaum munafiqun. Mereka mencela beliau dengan menyatakan bahwa beliau adalah mata-mata,  demikian pula mereka  mencela kaum mukminin, dan berbagai kejadian lainnya.
3⃣ Ketiga : Jangan mengira bahwa ini hanya terjadi pada zaman kita saja. Bahkan para shahabat juga mendapatkan gangguan dari kaum Saba'iyyah (para pengikut Abdullah bin Saba Yahudi,  yang kemudian berkembang menjadi Syi'ah Rafidhah,  pen), Khawarij,  dan yang lainnya.
Para Tabi'in juga demikian, menerima gangguan dari kelompok-kelompok di atas dan dari Qadariyyah (para pengingkar taqdir).
➡ Dakwah al-Haq PASTI AKAN MENDAPATKAN COBAAN. Ini adalah qadha dan qadar dari Allah. Aku tidak bermaksud mendahului Allah, namun kami katakan bahwa kondisi sekarang, mau tidak mau pasti akan mendapatkan cobaan, yakni sebagaimana yang kita lihat. Ayat di surat Ali 'Imran yang sudah kita sebutkan di atas,  sangat jelas dalam hal ini.

Kemudian ada beberapa perkara :
✅ PERTAMA : bukanlah hal yang aneh dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM)  jika mereka bekerja sama dengan kelompok Shufiyyah. Bahkan IM telah bekerja sama dengan kelompok SYI'AH RAFIDHAH! bahkan dengan Yahudi dan Nashara!!
Sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh imam mereka, yang diberi gelar "Asy-Syahid". Sebenarnya dia bukan syahid. Namun begitulah, syahid bagi banyak orang seperti sayur jirjir,  atau bawang putih,  atau bawang merah,  dll,  yakni menjadi perkara yang mudah,  'syahid', 'syahid'.  Karena itu mereka mengatakan,  "Syahid olahraga", "syahid ini", "syahid itu", seakan-akan mati syahid itu bisa seperti yang mereka maukan.
✅ KEDUA : Mereka BERDUSTA terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam mengaitkan dawah beliau dengan ISIS dan lainnya.
Oleh karena itu tidak heran jika ada yang mengatakan, bahwa "ISIS adalah pergerakan salafiyyah"!!
Aku katakan,  "Ya Allah hentikan mereka untuk tuntutan" (3x)
Insya Allah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab akan menuntut mereka atas berbagai kedustaan tersebut, demikan juga para imam dakwah sebelum dan setelah beliau.
☀ Barangsiapa yang mengenal dakwah beliau,  maka dia pasti tahu bahwa dakwah beliau tidak lain adalah dakwah Nabi Muhammad — shallallahu alaihi wa sallam — tidak ditambahi dan tidak dikurangi.
Memang beliau tidaklah makshum (terjamin selamat dari kesalahan). Namun ideologi-ideologi : Khawarij, Rafidhah,  dan Tashawwuf,  maka beliau terbebas darinya sebagaimana "srigala terbebas dari darah Nabi Yusuf alaihis salam." Sebagaimana juga kondisi orang-orang sebelum beliau dari kalangan para imam dalam ilmu, iman,  agama, dan hidayah, serta orang-orang setelah beliau juga demikan,  dan pada hari ini walhamdulillah.
Namun pasar ahlul bid'ah tidak akan ramai terjual kecuali dengan cara kedustaan.
ISIS diperangi, bahkan oleh orang-orang kafir. Hanya saja mereka tidak memberi nama khawarij,  namun mereka beri nama kaum teroris.

http://ar.miraath.net/fatwah/12349
•••••••••••••••••••

Sabtu, 10 Oktober 2015

MANA YANG SESAT ????


Sekarang saya bertanya, maka JAWABLAH DENGAN JUJUR WAHAI ORANG-ORANG YANG BERAKAL .... !!!!
..............................
Apa definisi 'SESAT' menurut anda ??
..............................

Bagaimana menurut anda, jika vonis sesat itu dihujatkan kepada para pembela kalimat لا إله إلا الله ?

Bagaimana menurut anda, jika vonis sesat itu diarahkan kepada orang-orang yang mengikuti syari'at Allah?

Bagaimana menurut anda, jika vonis sesat itu ditujukan kepada orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad - صلى الله علي وسلم ?

.... Tidak sampai si situ ....

Bagaimana pendapat anda, jika yang memvonis kesesatan itu justru para pengagung khurofat serta amalan-amalan yang berbau kesyirikan ?

Bagaimana pendapat anda, jika yang memvonis kesesatan itu justru orang-orang yang selalu membela kebid'ahan, penyimpangan yang disusupkan ke dalam ajaran islam ini?

Bagaimana pendapat anda, jika yang memvonis kesesatan itu justru orang-orang yang menolak sekian banyak dalil dari Al Qur'an dan hadits?? Bahkan lebih mengedepankan HAWA NAFSU dan ajaran mbah-mbah mereka yang menyelisihi ajaran Nabi ?

Lalu mana yang sesat :
'Wahabi' yang senantiasa membela harga diri para sahabat? Ataukah Said Aqil Sirajd yang menjadi tameng pembela syi'ah ?

Mana yang sesat :
'Wahabi'  yang seantiasa menjaga kemurnian sunnah, ataukah Said Aqil yang mencela sunnah Rasulullah?

Mana yang sesat :
'Wahabi' yang berislam di bawah bimbingan dan pemahaman para ulama sunnah, ataukah Said Aqil yang berikar akan menghalangi dakwah tauhid?

Sekali lagi, siapa yang layak dikatakan sesat :
'Wahabi' yang berpenampilan islami, ataukah Said Aqil yang mubantol, perokok,  pemikmat musik, mencukur jenggot dan musbil itu?

------------
Baca hukum memelihara jenggot:
http://salafy.or.id/blog/2003/07/01/biarkan-jenggot-anda-tumbuh/
------------
Atau anda telah salah dalam memahami makna 'sesat'......

AppSalafy
http://apswhatsapp.blogspot.co.id/

Jumat, 02 Oktober 2015

'WAHABI' DAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB


Pertanyaan ketiga dari fatwa nomor 6477

PERTANYAAN:
Sebagian orang pernah mengatakan kepada saya, "Ada gerakan yang disebut dengan 'wahabi'."

Lalu saya katakan kepada mereka, "Itu bukan wahabi, Hanya saja sebutan itu telah dibuat-buat oleh para petinggi (hijaz) yang bertujuan untuk menjauhkan manusia dari dakwah yang menyeru kepada pembaharuan." 

Akan tetapi salah seorang berkata kepada saya, "Sesungguhnya syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab -rahimahullah dahulu memang pernah melakukan perbaikan diniah, akan tetapi beliau menyimpang di akhir hidupnya tatkala beliau tidak menerima beberapa hadits nabawi yang tidak sesuai dengan pandangan beliau."

Maka apa tanggapan anda?

JAWABAN:
Syaikh Muhammab bin Abdil Wahhab adalah salah seorang du'at salafy yang paling besar, menyeru kepada aqidah yang selamat serta manhaj yang lurus. Beliau -rahimahullah telah menulisnya sebagai kumpulan referensi dalam hal itu.

Dan apa yang telah anda sebutkan tentang  komentar dari seseorang yang tidak suka dengan dakwah beliau, seraya mengatakan: Sesungguhnya beliau telah menyimpang di akhir hidup beliau tatkala beliau tidak menerima beberapa hadits nabawi yang tidak sesuai dengan pandangan beliau, - maka ini adalah kedustaan dan celaan kepada syaikh. Sungguh beliau wafat dalam keadaan beliau merupakan salah seorang yang paling bersungguh-sungguh di dalam memuliakan sunnah dan menerimanya. Bahkan beliaulah yang juga mendakwahkannya.

Wabillahit taufiq washallallahu 'alaa nabiyyina Muhammad, wa alihi washohbihi wasallam.

Al Lajnah ad Da'imah lil buhuts al Alamiyah wal Iftah

Ketua:
Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil ketua:
Abdurrozaq Afify

Anggota:
Abdullah bin Ghydayyan
Abdullah bin Qu'ud

---------------------
http://shamela.ws/browse.php/book-8381#page-1389

السؤال الثالث من الفتوى رقم (6477) :

س3: قال لي بعض الناس: إن هناك (الوهابية) ، فقلت لهم: إنه ليس هناك (وهابية) وإنما هي دعوة أطلقها الأشراف ليبعدوا الناس عن الدعوة الإصلاحية، ولكن أحدهم قال لي: إن الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله كان فعلا مصلحا دينيا ولكنه انحرف في آخر حياته حيث رفض بعض الأحاديث النبوية الصحيحة؛ لأنها لا توافق رأيه، فما هو قولكم؟.

ج3: الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله من أكبر الدعاة إلى السلفية والعقيدة السليمة والمنهج القويم وكتبه رحمه الله حافلة بذلك.

وما ذكرت من أن أحد خصوم دعوته قال لك: إن الشيخ انحرف في آخر حياته حيث رفض بعض الأحاديث الصحيحة؛ لأنها لا توافق رأيه - فهو كذب وافتراء على الشيخ، فقد توفي وهو من أشد الناس احتراما للسنة وتقبلا لها، بل ودعوة إليها، رحمه الله.

وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... عضو ... نائب رئيس اللجنة ... الرئيس
عبد الله بن قعود ... عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Alih bahasa:
Admin AppSalafy

Jumat, 25 September 2015

Sosok Pembaharu Bukanlah Pengacau Agama, Politikus atau Pemberontak


Penulis:Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
Syariah, Hadits, 24 - Maret - 2006, 20:26:38

Sulaiman ibnul Asy'ats As-Sijistani yang lebih dikenal dengan kunyahnya Abu Dawud rahimahullahu berkata: Sulaiman bin Dawud Al-Mahri telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahb telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sa�id bin Abi Ayyub, dari Syarahil bin Yazid Al-Ma�afiri, dari Abu �Alqamah, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

�Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun (seabad) seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.�
Hadits ini Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani rahimahullahu dalam Sunan-nya no. 4291. Dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu �Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 4/522, dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi.
Asy-Syaikh Al-�Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, Ash-Shahihah no. 599, dan Shahih Al-Jami� Ash-Shaghir no. 1874. Beliau berkata: �Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah (terpercaya), merupakan perawi yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (dalam Shahih-nya).� (Ash-Shahihah, 2/148)
Beliau juga mengatakan: �(Faidah): Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan shahihnya hadits ini. Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Siyar A�lam An-Nubala` (10/46): �Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu dari beberapa jalan periwayatan dari beliau: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mendatangkan bagi manusia di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mengajari mereka sunnah-sunnah dan meniadakan/ menolak kedustaan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam� Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata lagi: �Maka kami pun melihat orang yang demikian sifatnya, ternyata pada akhir seratus tahun orang itu adalah Amirul Mukminin �Umar bin Abdil �Aziz rahimahullahu dan pada akhir seratus tahun berikutnya (seratus tahun kemudian setelah seratus tahun yang pertama -pent.) orang itu adalah Al-Imam Asy-Syafi�i rahimahullahu.� (Ash-Shahihah, 2/148-149)

Makna Hadits
Yang dimaksud dengan umat dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ

�Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengutus bagi umat ini��
kata Al-Qari adalah ummat ijabah (umat Islam yang telah menerima dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), namun memungkinkan juga dimasukkannya ummat dakwah (mencakup non muslim yang didakwahi untuk masuk ke dalam Islam). Kata Al-Munawi rahimahullahu, yang dimaukan dalam hadits ini adalah ummat ijabah dengan dalil disandarkannya (di-idhafah-kan) kata ad-din (agama) kepada mereka dalam ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (agama umat ini). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Adapun maksud dari ucapan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ

�di penghujung setiap seratus tahun�, adalah akhir dari seratus tahun atau awalnya, ketika sedikit ilmu dan sunnah di tengah umat, sebaliknya kejahilan menyebar dan banyak kebid�ahan. Namun yang tepat, yang dimaukan dalam hadits ini adalah akhir dari seratus tahun, bukan awalnya. Dengan bukti dari Al-Imam Az-Zuhri dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta selain keduanya dari kalangan para imam yang terdahulu maupun yang belakangan rahimahumullah. Mereka sepakat bahwa mujaddid yang muncul pada akhir seratus tahun yang pe rtama1 adalah Amirul Mukminin �Umar bin Abdil �Aziz rahimahullahu. Dan seratus tahun yang kedua2 adalah Al-Imam Asy-Syafi�i rahimahullahu. Sementara �Umar bin Abdil �Aziz wafat pada tahun 101 H dalam usia 40 tahun dan masa kekhilafahan beliau 2,5 tahun. Sedang Al-Imam Asy-Syafi�i wafat pada tahun 204 H dalam usia 54 tahun. (�Aunul Ma�bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah)
Al-�Allamah Al-Muhaddits Al-Munawi rahimahullahu berkata: �Dimungkinkan perhitungan seratus tahun itu dari kelahiran Nabi, bi�tsah (diutusnya beliau sebagai Nabi), hijrah beliau ke Madinah, atau wafat beliau. Bila ada yang mengatakan bahwa yang kedua lebih dekat/tepat maka pendapat itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi As-Subki dan lainnya secara jelas menyatakan bahwa yang dimaukan adalah yang ketiga (perhitungan sejak hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

�Seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini�, yakni orang itu menerangkan tentang As-Sunnah sehingga jelas mana yang bid�ah. Ia menyebarkan ilmu, menolong ahlul ilmi, mematahkan dan merendahkan ahlul bid�ah. (�Aunul Ma�bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah)
Jumlah mujaddid yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tampilkan dalam setiap kurun bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang. Mujaddid tersebut harus merupakan seorang alim yang mengetahui ilmu agama secara dzahir maupun batin. Demikian faidah yang diambil dari ucapan Al-Munawi. (Mukaddi-mah Faidhul Qadir, 1/10)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-�Asqalani rahimahullahu berkata: �Pemahaman yang menyatakan bahwa jumlah mujaddid di setiap kurun itu bisa berbilang, lebih dari satu, memiliki sisi kebenaran. Karena terkumpulnya sifat-sifat yang dibutuhkan untuk men-tajdid perkara agama ini tidak dapat dibatasi pada satu jenis kebaikan saja. Dan tidak mesti seluruh perangai kebaikan dapat terkumpul pada satu orang, kecuali bila orang itu semacam �Umar bin Abdil �Aziz rahimahullahu, karena beliau bangkit menegakkan perkara agama ini pada akhir seratus tahun yang pertama dalam keadaan beliau mempunyai seluruh sifat-sifat kebaikan dan terdepan dalam sifat-sifat tersebut. Karena itu, Al-Imam Ahmad rahimahullahu memutlakkan bahwa ahlul ilmi membawa hadits tersebut atas �Umar bin Abdil �Aziz (yakni �Umar bin Abdil �Aziz merupakan mujaddid yang dimaksud hadits tersebut, -pen.). Adapun setelahnya adalah Al-Imam Asy-Syafi�i rahimahullahu. Walaupun Al-Imam Asy-Syafi�i memiliki sifat-sifat yang bagus, namun beliau bukan orang yang menegakkan perkara jihad, dan bukan orang yang memegang kekuasaan yang dapat memerintah/menghukumi dengan adil.3 Berdasarkan hal ini, maka setiap alim yang memiliki salah satu sifat-sifat yang demikian di penghujung seratus tahun, maka dialah mujaddid yang diinginkan, baik jumlahnya berbilang atau hanya satu.� (Fathul Bari, 13/361)
Makna tajdid sendiri adalah menghidupkan apa yang telah terkubur ataupun runtuh berupa pengamalan terhadap Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ataupun menghidupkan hukum-hukum syariat yang telah runtuh dan bendera-bendera As-Sunnah yang telah hilang dan ilmu-ilmu agama yang dzahir maupun batin yang telah tersembunyi.4

Seorang mujaddid bukanlah seorang pengacau agama. Makna inilah yang dipahami kebanyakan orang, bahwa mujaddid adalah seseorang yang mengajarkan jalan baru dalam agama, yang sebenarnya lebih pantas dikatakan pengacau agama. Seperti kesalahpahaman orang Indonesia yang menyatakan Nurcholish Madjid sebagai mujaddid, ataupun Muhammad �Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani yang dianggap sebagai mujaddid. Bukan pula mujaddid adalah seorang politikus, sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa mujaddid adalah seorang politikus ulung, seperti yang dikatakan orang terhadap Abul A�la Al-Maududi ataupun Dr. Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Demikian pula, mujaddid bukanlah seorang pemberontak yang memberontak terhadap pemerintah dan negara, seperti yang dikatakan orang terhadap Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, atau Sa�id Hawa. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa seorang mujaddid tidaklah membawa agama baru, pemikiran baru atau jalan baru. Tetapi ia mengajak manusia untuk kembali kepada agama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang murni setelah mereka melupakan agama Nabi mereka dan tenggelam dalam kebodohan, kebid�ahan, dan kesesatan.

Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap Agama ini, di antaranya dengan Menampilkan para Mujaddid
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah lama wafat, namun agama beliau tetap terjaga sampai hari ini dan sampai nanti ketika datang hari kiamat. Al-Qur`an yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada beliau tetap murni sebagaimana saat diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kali yang pertama. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menjanjikan pemeliharaannya sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

�Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikra dan Kami juga yang akan menjaganya.� (Al-Hijr: 9)
Al-�Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa�di rahimahullahu berkata: �Tidaklah dipalingkan satu makna dari makna-makna Al-Qur`an kecuali Allah akan mendatangkan orang yang akan menerangkan al-haq yang nyata pada Al-Qur`an tersebut.� (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 429)
Tidak hanya Al-Qur`an yang terjaga kemurniannya, namun juga Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan tafsir atau penjelasan dari Al-Qur`anul Karim. Para ulamalah yang dipilih Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk meneruskan dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seluruh alam, karena mereka adalah pewaris ilmu para Nabi. Dengan keberadaan mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga agama-Nya.
Demikianlah setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membiarkan umat ini terus tenggelam dalam kebodohan, lupa akan petunjuk dan bimbingan agamanya. Di tengah umat ini selalu ada orang-orang yang Allah munculkan untuk mengadakan perbaikan ketika manusia membuat kerusakan. Di tengah mereka mesti ada Ath-Tha`ifah Al-Manshurah Al-Firqatun Najiyah. Dan di setiap penghujung seratus tahun atau satu abad dari perjalanan waktu, di tengah mereka mesti akan tampil seorang atau lebih ulama mujaddid yang akan mengajak mereka untuk kembali kepada ajaran agama Islam yang murni seperti yang dibawa Nabi umat ini Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana kemunculannya dipastikan dalam hadits yang telah kita bawakan di atas.

Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu Sosok Pembaharu
Salah seorang sosok mujaddid yang Allah Subhanahu wa Ta'ala munculkan di abad ke-12 Hijriyyah atau bertepatan dengan abad ke-19 Masehi adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin �Ali At-Tamimi Al-Hanbali rahimahullahu yang bertempat di negeri Najd, Saudi Arabia. Beliau lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Banyak karya tulis yang berbicara tentang beliau yang disifati sebagai seorang peng-ishlah (orang yang mengadakan perbaikan) yang agung, seorang mujaddid Islam, seorang yang berada di atas petunjuk dan cahaya dari Rabbnya dan banyak lagi kebaikan-kebaikannya yang sulit untuk dihitung. (Majmu� Fatawa wa Maqalat Mutanawwi�ah Asy-Syaikh Ibnu Baz, dalam pembahasan tentang Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

Da�watuhu wa Siratuhu, 1/355)
Syaikh Mujaddid ini disifati demikian tidak lain karena beliau seorang alim salafi dari sisi aqidah dan manhaj, hingga pantas disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan dan disebut dengan sebutan yang merupakan perangai kebaikan dan amal kebajikan. (Qathul Janiyil Mustathab Syarhu �Aqidah Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab, hal. 7, karya Asy-Syaikh Al-Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali). Barakah dakwah beliau terus dirasakan oleh umat Islam sampai hari ini walaupun beliau telah wafat 221 tahun yang lalu (dua abad lebih). Tidak sebatas di negerinya, tetapi juga sampai ke seluruh negeri yang ada di berbagai belahan bumi ini, termasuk pula negeri kita Indonesia. Kitab-kitab karya beliau tersebar ke segala penjuru negeri, dibaca, dipelajari dan dijadikan rujukan oleh para penuntut ilmu, seperti kitab Al-Ushuluts Tsalatsah, Kasyfusy Syubuhat, Kitabut Tauhid, Masa`ilul Jahiliyyah dan masih banyak lagi.

Para ulama setelah beliau banyak yang mensyarah karya-karya beliau menjadi satu atau beberapa kitab yang tebal. Satu hasil nyata dari dakwah beliau adalah berdirinya kerajaan tauhid Saudi Arabia dan tetap tegak sampai hari ini sebagai satu-satunya negara yang mengibarkan bendera tauhid dan menyatakan perang terhadap kesyirikan. Walillahil hamdu (Segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah).

Pada awal dakwahnya, Syaikh yang mulia ini melihat kebodohan tersebar di seluruh negerinya. Beliau melihat manusia berbolak-balik menuju ke pelepah kurma dan kuburan untuk memohon kepada penghuni kubur dan benda-benda mati dengan permintaan yang semestinya tidak diminta kecuali kepada Pencipta langit dan bumi. Beliau melihat manusia meminta ampunan dan kesembuhan kepada penghuni kubur, sebagaimana mereka juga dikuasai oleh ketakutan yang sangat terhadap para setan di mana hal itu membawa mereka untuk berlindung kepada setan.

Saat berkeliling negeri untuk menuntut ilmu, beliau juga melihat umat Islam hidup dalam kejahiliyahan yang sama dengan umat di negerinya. Di samping itu, beliau melihat Kitabullah tidak lagi menjadi rujukan dalam pengambilan hukum, namun justru manusia berhukum dengan selain hukum Allah. Inilah fenomena yang mendorong Syaikh untuk mengadakan perbaikan aqidah dan hukum sehingga hukum hanya milik Allah dan ibadah hanya ditujukan pada-Nya, demikian pula mutaba�ah (mengikuti) hanyalah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menyerang kejahiliyahan dan berseru dengan lantang kepada manusia bahwa mereka tidak di atas agama Islam sedikitpun.

Beliau pun mengajak mereka untuk kembali kepada Islam yang hakiki, beribadah kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan agar ketaatan hanya ditujukan kepada Rasul-Nya. Beliau mengajak mereka agar beribadah kepada Allah dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa mengadakan-adakan perkara baru dalam agama, dan agar hukum yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dijadikan sebagai pokok, bukan sekedar pembungkus dalam pendapat-pendapat, undangundang atau adat. Beliau membawa mushaf (lembaran Al-Qur`an) guna mengajak manusia agar kembali kepadanya, merasa cukup dengannya dan dengan As-Sunnah sebagai penjelas dan perinci apa yang global dalam Al-Qur`an.
Berawal dari sini, bangkitlah orang-orang yang mendukung kehidupan jahiliyyah. Mereka pun bereaksi dan berteriak bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab datang membawa agama baru dan menganut madzhab yang kelima. Namun Syaikh tetap berlalu dengan dakwah beliau tanpa mengindahkan apa yang mereka ucapkan dan sebarkan. (Masyakilud Da�wah wad Du�ah fil �Ashril Hadits, sub judul Da�watu Muhammad bin Abdil Wahhab wa Shumuduha lil Musykil, hal. 45-46, karya Asy-Syaikh Al-�Allamah Muhammad Aman bin �Ali Al-Jami)
Banyak sumbangsih yang diberikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu kepada kaum muslimin yang semestinya disyukuri. Namun ada saja orang yang hasad kepada beliau atau orang yang dakwahnya berseberangan dengan dakwah yang beliau tegakkan. Mereka menyimpan kebencian kepada beliau bahkan menyebarkan ucapan-ucapan jelek dan tuduhan palsu tentang beliau dan dakwahnya. Sehingga tidak sedikit orang awam yang termakan ucapan mereka. Akibatnya beliau dibenci dan dicaci oleh mereka, dan dakwah seperti yang beliau ajarkan dijauhi.
Ditempelkanlah gelar Wahabi kepada pengikut dakwah beliau, seakan beliau dan pengikut dakwah beliau berjalan di atas selain jalan yang haq dan membentuk madzhab yang kelima dalam Islam. Padahal dakwah beliau adalah dakwah kepada tauhid yang murni, memperingatkan dari kesyirikan dengan seluruh jenisnya, seperti bergantung kepada orang-orang mati dan yang lainnya, baik berupa pepohonan, bebatuan dan semisalnya.

Dalam masalah aqidah, beliau rahimahullahu berada di atas madzhab As-Salafus Shalih, dalam fiqih beliau berpegang dengan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu sebagaimana ditunjukkan dalam kitab-kitab karya beliau, fatwa-fatwa beliau dan kitab-kitab karya pengikut beliau dari kalangan anak dan cucu-cucunya serta selain mereka.
Dengan demikian Wahabiyyah bukanlah madzhab kelima seperti anggapan orang-orang bodoh dan orang-orang yang benci. Dia hanyalah dakwah kepada aqidah salafiyyah dan memperbaharui apa yang telah roboh dari bendera-bendera Islam dan tauhid di jazirah Arab. (Majmu� Fatawa wa Maqalat Mutanawwi�ah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, 1/374)

Aqidah dan Keyakinan Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu

Tuduhan orang-orang yang benci ataupun orang-orang bodoh bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu membawa agama baru dan menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak terbukti. Bahkan bukti yang ada menunjukkan bahwa beliau di atas al-haq, dan dakwah yang beliau sampaikan adalah dakwah yang haq, mencocoki ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Berikut ini kita bawakan aqidah yang beliau yakini, guna menepis tuduhan dan membuang keraguan dari orang-orang yang ragu.

Ketika penduduk Qashim menanyakan tentang aqidah beliau, beliau menyatakan bahwa aqidah yang beliau yakini adalah aqidah Al-Firqatun Najiyah, Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan hal ini beliau amalkan dan jalankan selama hidup beliau. Aqidah tersebut berupa:
1. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah mati dan iman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk.
2. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani sifat-Nya yang yang disebutkan-Nya dalam kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa tahrif (mengubah) dan tanpa ta�thil (menolak), tanpa takyif (menanyakan hakikat) dan tamtsil (menyamakan dengan makhluk).
3. Al-Qur`an adalah Kalamullah, yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan makhluk. Al-Qur`an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan akan kembali kepada-Nya.
4. Mengimani seluruh yang dikabarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa hal-hal yang terjadi setelah kematian, fitnah dan nikmat kubur, dikembalikannya ruh kepada jasad pada hari kiamat, adanya mizan, dibagikannya catatan amal para hamba, adanya telaga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis daripada madu dan bejananya sejumlah bintang-bintang di langit, siapa yang meminumnya ia tidak akan haus selama-lamanya. Termasuk pula mengimani adanya shirath (jalan/jembatan) yang dibentangkan di atas dua tepi Jahannam yang akan dilewati manusia sesuai kadar amal mereka. Mengimani adanya syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, adanya surga dan neraka yang telah diciptakan dan sekarang telah ada. Dan mengimani bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mata kepala mereka pada hari kiamat.
5. Mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul.
6. Meyakini bahwa shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling afdhal adalah Abu Bakr, kemudian �Umar, dan �Utsman yang berikutnya, kemudian �Ali. Setelahnya adalah enam shahabat yang tersisa dari 10 shahabat yang dijanjikan masuk surga (Al-�Asyrah Al-Mubasysyaruna bil jannah),5 lalu para shahabat yang mengikuti perang Badar, berikutnya para shahabat yang berbai�at di bawah pohon (Bai�atur Ridhwan).
7. Beliau berloyalitas kepada para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyebut mereka dengan kebaikan, ridha kepada mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, menahan diri dari menyebut kesalahan mereka, dan diam dari perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.
8. Sebagaimana beliau pun ridha kepada Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) radhiyallahu �anhunna.
9. Menetapkan adanya karamah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
10. Tidak mempersaksikan seseorang dari kaum muslimin dengan pernyataan �Fulan penduduk surga� atau �Fulan ahlun nar (penduduk neraka)�, kecuali yang telah dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penduduk surga atau penduduk neraka.
11. Tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin karena dosa yang diperbuat dan tidak pula mengeluarkannya dari lingkaran Islam.
12. Beliau memandang jihad tetap berlangsung bersama setiap imam/pemimpin yang baik ataupun yang fajir/jahat.
13. Bolehnya shalat berjamaah di belakang pemimpin yang jahat.
14. Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin yang baik ataupun yang fajir, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
15. Siapa yang memegang khilafah, manusia berkumpul dan ridha padanya, atau ia menguasai mereka dengan pedang hingga menjadi khalifah, maka ia wajib ditaati dan haram memberontak padanya.
16. Beliau berpandangan harusnya memboikot ahlul bid�ah dan memisahkan diri dari mereka sampai mau bertaubat. Kita menghukumi mereka secara dzahir, adapun batin mereka diserahkan urusannya kepada Allah.
17. Meyakini bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam agama ini merupakan bid�ah.
18. Iman adalah ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota badan dan pembenaran dengan hati, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
19. Beliau memandang wajibnya amar ma�ruf nahi mungkar sesuai bimbingan syariat. [Lihat Qathul Janiyil Mustathab Syarhu �Aqidah Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab]
Demikianlah aqidah yang dianut oleh Syaikh Mujaddid tersebut, yang secara jelas menggambarkan beliau adalah seorang sunni salafi, yang berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para shahabat, tabi�in, atba�ut tabi�in, yakni jalan As-Salafush Shalih. Semestinya tidak ada lagi keraguan akan kebenaran dakwah beliau setelah adanya penjelasan ini. Dan silahkan gigit jari orang-orang yang benci dan hasad kepada beliau dan kepada dakwah tauhid yang haq ini.
Wallahu ta�ala a�lam bish-shawab.

1 Abad pertama Hijriyyah
2 Abad kedua Hijriyyah
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil �Aziz rahimahullahu
4 �Aunul Ma`bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil �Aziz rahimahullahu
4 Aunul Ma`bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com

Rabu, 23 September 2015

APAKAH HAKEKAT “WAHABI” YANG TERUS DIMUSUHI & DIOLOK-OLOK OLEH ISLAM NUSANTARA DAN GARIS LURUS ITU?

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Rahimahullah

……………………………………………………

Tanya :

“Sebagian orang menyebut ulama-ulama Saudi Arabia sebagai ulama-ulama "Wahabi". Apakah Anda rela dengan penyebutan ini?”

Jawab :

“Ini adalah julukan terkenal untuk ulama-ulama Tauhid, ulama-ulama di negeri Najd (sebuah kota kecil dekat Riyadh Saudi Arabia, pen). Mereka (para penuduh tersebut) menisbahkannya kepada ASY-SYAIKH AL-IMAM MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB rahmatullah ‘alaihi.
Karena beliau BERDAKWAH MENGAJAK KEPADA AGAMA ALLAH pada paroh kedua abad ke-12 hijriyah. Beliau berupaya serius dalam menjelaskan tauhid dan menjelaskan bahaya syirik kepada umat manusia, hingga melalui beliau Allah memberikan hidayah kepada manusia dalam jumlah yang sangat besar. Umat manusia masuk dalam Tauhidullah, dan meninggalkan berbagai bentuk syirik akbar yang sebelumnya mereka berada di atasnya, baik berupa penyembahan kepada kubur, bid’ah-bid’ah yang terkait kuburan, maupun penyembahan kepada pohon-pohon dan batu-batu , serta sikap ekstrim dalam mengkultuskan orang-orang shalih.

✏ Jadilah dakwah beliau adalah dakwah TAJDIDIYYAH (PEMBAHARUAN) ISLAMIYYAH yang sangat besar. Dengan dakwah tersebut Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin di Jazirah Arabia dan negeri-negeri lainnya – semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas –  dan jadilah para pengikut beliau dan orang-orang yang berdakwah kepada apa yang beliau dakwahkan serta tumbuh di atas dakwah ini di negeri Najd disebut sebagai “WAHABI”. Sehingga gelar ini menjadi sebutan bagi setiap orang yang berdakwah kepada Tauhid, melarang dari Syirik dan bergantung kepada kuburan-kuburan atau pohon-pohon dan batu-batu, serta memerintahkan untuk ikhlash (memurnikan peribadahan) hanya untuk Allah satu-satunya.

✅ Disebutkan dengan julukan “WAHABI”, SEBENARNYA INI ADALAH JULUKAN YANG MULIA, menunjukkan bahwa barangsiapa yang dijuluki dengan gelar tersebut maka dia adalah Ahli Tauhid, dan termasuk Ahli Ikhlash, dan termasuk orang-orang yang melarang dari kesyirikan, melarang dari penyembahan kepada kuburan-kuburan, pohon-pohon, batu-batu, dan patung-patung serta berhala.

Inilah asal usul penamaan dan julukan ini. Yaitu merupakan penisbatan kepada asy-Syaikh al-Imam MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB BIN SULAIMAN BIN ‘ALI AT-TAMIMI AL-HANBALI, seorang da’i ke jalan Allah 'Azza wa Jalla. Beliau tumbuh di negeri Najd, belajar di negeri Najd, kemudian melakukan perjalanan ke Makkah, Madinah, Iraq,  dan Ahsa’ untuk mengambil ilmu dari para ‘ulama Ahlus Sunnah di negeri-negeri tersebut.

Kemudian beliau kembali ke negeri Najd, beliau mendapati kondisi umat yang berada dalam kungkungan kejahilan (kebodohan), peribadatan kepada kuburan-kuburan dan sikap ghuluw (ekstrim) terhadapnya, kesyirikan kepada Allah Ta’ala, memanggil-manggil / berdo’a kepada orang mati, beristighatsah kepada orang mati, dan membangun di atas kuburan.

▶☀ Maka beliau pun berdakwah ke jalan Allah, membimbing umat dan melarang mereka dari berbuat syirik, menjelaskan tauhid kepada umat yang itu merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya sekaligus agama yang diserukan oleh para rasul ‘alahish shalatu was salam. …

Maksud dari penjelasan ini semua adalah : bahwa julukan dan gelar tersebut adalah julukan bagi setiap orang yang berdakwah kepada Tauhid dan mengingkari Syirik. Sebagian orang-orang bodoh menyebutnya dengan julukan WAHABI. Itu akibat kebodohan mereka tentang hakekat sebenarnya dan mereka tidak berilmu tentangnya.

Hakekat sebenarnya adalah sebagaimana telah kami sebutkan. Bahwa ini adalah DAKWAH YANG BESAR :
mengajak kepada Tauhid,
mengajak untuk berittiba’ (mengikuti) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan
tidak bertaklid serta fanatik buta,
meninggalkan bid’ah dan khurafat,
meninggalkan syirik dan bergantung kepada orang-orang mati, pohon, dan bebatuan. Bahkan meninggalkan bergantung kepada para nabi dan orang-orang shalih.

➡ Jadi dakwah ini adalah dakwah yang
❌ MEMERANGI SYIRIK,
✅ mengajak kepada TAUHID dan IKHLASH untuk-Nya. Beriman dengan makna Laailaaha Illallah dan merealisasikannya, juga merealisasikan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, berpegang teguh dengan Sunnah dan jalan beliau, serta istiqomah di atas itu semua.
Ⓜ⛵ INILAH DAKWAH ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB Rahimahullah.

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, hal. 23)

……………………………
Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~

BENARKAH WAHABI TARGETKAN HABISI NU TAHUN 2030?!?!?

〰〰〰〰〰〰

KIPRAH “WAHABI” & KAMPANYE PEMBUSUKAN OLEH MUSUH-MUSUHNYA (4):

❓❗BENARKAH WAHABI TARGETKAN HABISI NU TAHUN 2030?!?!?

Sebuah dokumen yang sangat provokatif dengan berkop surat DPP PKS diangkat dalam forum resmi oleh salah satu pengurus MUI pusat….berbicara tentang perjuangan sekumpulan harakah, partai politik Wahabi untuk menghabisi NU sampai titik darah terakhir … judul dan kesimpulanpun segera ditarik dengan bahasa “berbau darah” berkampanye hitam terhadap Wahabi :

“Kata MUI Pusat, Tahun 2030 Wahabi dan Syi’ah Targetkan Habisi NU”

Iya, sebuah judul yang menggelegar….. tetapi benarkah “Wahabi” terkait dalam hiruk pikuk ambisi kekuasaan dan perpolitikan?!

Berikut isi beritanya:

“SERAMBIMATA – Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Dr KH Kholil Nafis Lc MA mengingatkan bahwa aliran Wahabi, Syiah, dan aliran radikal lainnya bisa menghancurkan NU sebagai aliran moderat pada 2030.

“Mereka punya uang dan menargetkan NU akan habis pada 2030, karena kelompok Syiah saat ini sudah memiliki 61 organisasi di Jawa dan 23 organisasi di luar Jawa,” katanya dalam seminar yang diadakan Aswaja Center PWNU Jatim di Surabaya, Kamis.

Di hadapan 200 lebih peserta seminar bertajuk “Menyikapi Konflik Sunni-Syiah dalam Bingkai NKRI” itu, dosen UI itu menjelaskan sebaran puluhan organisasi Syiah itu belum termasuk Wahabi dan kelompok radikal lainnya.

“Tidak hanya itu, para aktivis Syiah dari berbagai organisasi itu pun sudah ada puluhan orang yang menjadi politisi Senayan lewat PAN, PDIP, dan sebagainya, sedangkan kelompok radikal lainnya sudah merasuki anak-anak muda NU,” katanya.

Bahkan, kelompok Syiah juga sudah membuat 25 saluran website/laman, lima saluran radio/TV, dan 33 lembaga penerbitan. “Karena itu, NU jangan diam saja,” kata Sekretaris Program Studi Timur Tengah di UI itu.

Gambar 1. Provokasi pembusukan atas nama “Wahabi” …

Dikutip dari antaranews, dalam seminar yang juga pembicara lain, Prof Dr Mohammad Baharun SH MA (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat), Habib Ahmad Zein al-Kaf (Ketua Al-Bayyinat Jatim), dan Prof Dr Musta’in Masyhud (Unair), ia menyarankan tiga strategi yang perlu dilakukan NU.

“Ketiga strategi adalah budaya, kebijakan, dan inovasi. Budaya itu cara-cara yang santun, seperti pembinaan kepada masyarakat yang sudah tersesat menjadi Syiah, namun strategi kebudayaan itu bagus tapi lama prosesnya,” katanya.

Oleh karena itu, perlu diimbangi dengan strategi kebijakan dan inovasi. “Strategi kebijakan itu, misalnya, pernyataan tegas bahwa Syiah itu sesat melalui MUI atau perda (peraturan daerah). Untuk strategi inovasi adalah strategi rekayasa sosial yang meneladani cara-cara walisongo, tapi bukan lagi melalui budaya seperti tahlil, dibaan, tapi melalui inovasi, seperti laman/website khusus Aswaja, twitter, facebook, youtube, BBM, SMS, dan sebagainya.

Sebelumnya, dunia sosmed dihebohnya dengan munculnya dokumen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berisi pembubaran Nahdlatul Ulama (NU).

Gambar 2. Dokumen berkop DPP PKS untuk pembubaran NU. “….Kita wajib memerangi sampai titik darah terakhir …..Target kita tahun 2030 NU  akan habis di bumi Indonesia tercinta ini.

SELENGKAPNYA:

⬇ ⬇ ⬇

http://tukpencarialhaq.com/2015/09/21/kiprah-wahabi-baca-saudi-dan-kampanye-pembusukan-oleh-musuh-musuhnya-4-benarkah-wahabi-targetkan-habisi-nu-tahun-2030/

〰〰〰〰
B A C A  J U G A

⬇ ⬇ ⬇

Kiprah “WAHABI” (BACA: SAUDI) dan Kampanye Pembusukan Oleh Musuh-Musuhnya (1) (MEMBANTU SEPENUH HATI SAUDARANYA YANG TERTIMPA MUSHIBAH & PENGUNGSI SURIAH AKIBATKAN KEKEJAMAN TERORIS ISIS TANPA BERKOAR-KOAR & BALASAN FITNAH YANG DITERIMANYA) - http://tukpencarialhaq.com/2015/09/13/kiprah-wahabi-baca-saudi-dan-kampanye-pembusukan-oleh-musuh-musuhnya-1-membantu-sepenuh-hati-saudaranya-yang-tertimpa-mushibah-pengungsi-suriah-akibatkan-kekejaman-teroris-isis-tanpa-berk/
⬇ ⬇ ⬇

Kiprah “WAHABI” (Baca: Saudi) dan Kampanye Pembusukan Oleh Musuh-musuhnya (2): SANTUNAN SENILAI I JUTA RIYAL (3,8 MILYAR) BAGI KORBAN JATUHNYA CRANE DI MASJIDIL HARAM MEKKAH - http://tukpencarialhaq.com/2015/09/19/kiprah-wahabi-baca-saudi-dan-kampanye-pembusukan-oleh-musuh-musuhnya-2-santunan-senilai-i-juta-riyal-38-milyar-bagi-korban-jatuhnya-crane-di-masjidil-haram-mekkah/
⬇ ⬇ ⬇

Kiprah “WAHABI” (Baca: Saudi) dan Kampanye Pembusukan Oleh Musuh-musuhnya (3): APAKAH HAKEKAT “WAHABI” YANG TERUS DIMUSUHI OLEH SYIAH, QUBURIYUN, JIN & JIL? - http://tukpencarialhaq.com/2015/09/20/kiprah-wahabi-baca-saudi-dan-kampanye-pembusukan-oleh-musuh-musuhnya-3-apakah-hakekat-wahabi-yang-terus-dimusuhi-oleh-syiah-quburiyun-jin-jil/
〰〰〰〰
PSTED

▪▪▪▪▪▪▪

www.ittibaus-sunnah.net
◉  ◈  ◉  ◈  ◉  ◈  ◉  ◈  ◉  ◈  ◉
أصحاب السنة
ASHHABUS SUNNAH✪